Senin, 20 Mei 2013

PELESIR KE MAROS, MAKASSAR DAN PAREPARE



Ini lanjutan tulisan saya sebelumnya, yaitu ketika mengikuti  Bimbingan Teknis Pemeliharaan Jaringan dan Komputer (BTPJK) di Makassar

Tiba di Bandara Hasanuddin Makassar tanggal 8  April 2013 pukul 08.00 WIT, setelah istirahat satu jam saya menyempatkan dulu pelesir ke AirTerjun Bantimurung Maros (sekitar 25 km dari Bandara) yang terkenal itu dengan kondisi hujan. Naik taxi borongan Rp 240.000,- dengan kesepakatan tujuan dari Bandara-Bantimurung-Panakukang Makassar. Sampai di lokasipun masih hujan, sehingga saya tidak berani menjelajah lebih jauh di lokasi air terjun yang suara airnya bergemuruh (khawatir terjadi air bah). Sebenarnya di sana ada gua, istana kupu-kupu dan lain-lain yang patut kita kagumi untuk merenungkan betapa tidak terbatasnya kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

Hari berikutnya (malam hari) makan di warung makan ikan segar “LAE-LAE”, bersama Supri KPPN Sidoarjo dan pak Sugeng yang bertugas di Kejari Makassar. Saya pilih ikan bakar baronang, tapi cara membakarnya tidak seperti di Jawa yang diberi rempah-rempah dan kecap (di Makassar sekedar dibakar saja). Setelah makan malam dilanjutkan ke Pantai Losari dan makam Pangeran Diponegoro serta keliling kota Makassar.

Kesempatan berikutnya saya shalat Magrib di Masjid Raya Makassar dan shalat Isya’ di Masjid Al-Markaz Al-Islami  yang keduanya diresmikan oleh H.M. Jusuf Kalla. Ini kebiasaan kalau lagi pelesir, saya usahakan bisa shalat di masjid besar/raya kota yang saya singgahi. Ada kepuasan tersendiri.

Pagi hari habis shalat subuh dari hotel jalan kaki menyusuri jalan Boulevard sampai di jalan Andi Pangeran Pettarani, naik becak kemudian naik pete-pete (angkot) menuju terminal Daya (sekedar survey karena tanggal 12-04-2013 saya akan ke Pare-pare). Ternyata mobil angkutan plat kuning di Makassar Sulawesi Selatan adalah mobil yang di Pulau Jawa sebagai mobil pribadi (plat hitam) yang dirawat dengan baik. Misalnya Isuzu Panther, Kijang Innova, Toyota Avanza dll. Karena sudah pukul 06.30 WIT, saya harus bergegas kembali ke hotel naik ojek Rp 30.000,- dengan jarak tempuh sekitar 18 km.

Sore hari saya lanjutkan menuju KPPN Makassar I untuk menemui pak Amran Razak yang pernah bertugas di KPPN Bojonegoro. Ini sebagi kunjungan balasan karena beberapa hari sebelumnya pak Amran beserta ibu dan putrinya menemui saya di hotel sambil membawa oleh-oleh ….. untuk teman-teman KPPN Bojonegoro. Kami lanjutkan menuju benteng Fort Rotterdam, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallonna.
Kamis malam (11-04-2013) BTPJK ditutup oleh Kepala Bagian Umum Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Selatan, Usdek Rahyono dan dilanjutkan dengan hiburan.

Paginya Jumat (12-04-2013) pukul 06.00 WIT saya menuju terminal untuk melanjutkan pelesir ke Parepare (sudah janjian sama mas Kasman KPPN Parepare) yang jaraknya sekitar 150 km dari terminal Daya Makassar. Makassar – Parepare perjalanannya sangat menyenangkan banyak pemandangan alam yang tidak saya temui di Pulau Jawa, mulai dari rumah panggung sampai pegunungan yang nampak menghadang jalan dan disamping kami. Jalannya seperti jalan tol sehingga mobil bisa jalan 120km/jam, kalau di Jawa, Bojonegoro-Surabaya rata-rata kecepatan 80km/jam (karena harus berjuang untuk mendahului truk gandeng dan kontainer).

Tiba di Parepare pukul 10.00 WIT (Alhamdulillah tidak telat shalat Jum’at) terus naik angkutan menuju KPPN Parepare, yang ternyata dipintu gerbang KPPN teman saya mas Kasman sudah menunggu dengan seorang ibu. Siapa ya ibu itu (pikirku) ? Ternyata namanya ibu Maryam juga pegawai KPPN Parepare, dan menawari saya untuk menginap di rumah baru beliau yang ada di belakang kantor. Saya setuju, rejeki khan tidak boleh ditolak (juga penghematan ha..ha…). Akhinya saya tidak jadi sewa penginapan.

Setelah shalat Jum’at kami ke Balai Penginderaan Jarak Jauh, LAPAN Parepare bersama pak Agus untuk menikmati suasana Kantor Balai yang indah, asri dan bersih. Kami dikenalkan sebagian alat-alat yang ada, tugas Balai, termasuk naik ke antenna yang berbentuk bola. Ini pengalaman baru bagi kami. 
Sepulang dari Lapan sempat kuliner di Warung Itik “Dua Putri” yang menunya bebek goreng, lezat sekali.

Sorenya main di pantai Lumpue yang bentuknya setengah lingkaran, indah sekali pantai cipataan Allah SWT. Malamnya main di pasar senggol atau terkenalnya pasar Cakar (Cap Karung) yang menjual barang/pakaian eks luar negeri, yang konsumennya semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Saya juga menikmati pisang epe’ di pantai sekitar pelabuhan dekat pasar Cakar tersebut.

Sehari semalam di Parepare, dengan berat hati hari Sabtu tanggal 13 April 2013 pukul 10.00 WIT saya kembali ke Bandara Hasanuddin Makassar untuk terbang menuju Surabaya.

Oya …. ada yang unik ketika naik angkutan umum menuju Parepare, di tengah perjalanan sopir angkutan hutang uang Rp 1.000,- untuk bayar retribusi kemudian minta lagi Rp 4.000,- biar pas Rp 5.000,- katanya. Setelah sampai di Parepare bayar Rp 50.000,- terus saya tanyakan : uang saya yang Rp 5.000,-?  Dengan entengnya si sopir menjawab : ikhlaskan saja. Jadi totalnya saya bayar Rp 55.000,-  
Kemudian ketika kembali menuju Makassar naik angkutan umum dengan kesepakatan ongkos                  Rp 50.000,- ditengah perjalanan si sopir ternyata minta tambah Rp 10.000,- Jadi akhirnya saya bayar           Rp 60.000,-  Mungkin sopir-sopir itu tahu kalau saya dapat uang saku ketika mengikuti Bimbingan Teknis. Haaa…. Haaa…..

Terima kasih untuk pak Amran (KPPN Makassar I), pak Sugeng (Kejari Makassar), mas Kasman (KPPN Parepare), pak Amrullah dan ibu Maryam (Parepare), pak Agus (Balai Penginderaan Jarak Jauh, LAPAN Parepare), dan mas Supri (KPPN Sidoarjo).

Tidak ada komentar: