Jumat, 26 September 2008

GETARKAN JIWA (2)

Idul Fitri 1429 H tinggal beberapa hari lagi.

Sudah siapkah kita ditinggal Ramadhan yang penuh ampunan ini ?

Sudahkah kita membakar dosa-dosa kita ?

Sudahkah kita meningkatkan (menambah) ibadah yang belum pernah kita lakukan sebelumnya ?

Sudahkah kita ingat kaum duafa yang juga ingin bersenang-senang di hari kemenangan (Idul Fitri) ?

Sudahkah kita memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan Allah SWT pada Ramadhan tahun ini ?

Setelah kita latihan menggetarkan jiwa, GETARKAN JIWA (1) sudahkah ada peningkatan ?

Kadang Getaran jiwa, getaran hati, dan tetesan air mata muncul (bereaksi) tanpa kita sadari, tanpa kita minta, tapi kadang juga kita harus latihan waktu beribadah / mendekatkan diri pada Allah SWT. Tapi karena kekhusukan diri kita beribadah, dan ingat kalau kita semua milik Allah yang MAHA SEGALANYA, maka getaran jiwa itu akan muncul.

Ayo kita rayakan Idul Fitri 1429 H tanpa keluar dari syariat-syariat Islam.

souvenirjati.blogspot.com MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

Dan semoga Allah SWT memberikan panjang umur kepada kita, sehingga bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan 1430 H Amin, Amin, Amin Ya robbal alamin.

Selasa, 23 September 2008

PASAR MURAH BOJONEGORO

Dalam rangka menyambut Idul Fitri 1429 H Pemerintah Daerah Bojonegoro mengadakan Pasar Murah di dalam aloon-aloon barat kota Bojonegoro. Beraneka ragam yang di perdagangkan dalam stan pasar murah tersebut. Mulai dari pakaian untuk lebaran (didominasi pakaian muslim), kue-kue kering untuk lebaran, mainan anak-anak, dan lain-lain. Tak ketinggalan pula stan penjual bunga hias yang menempati separo dari pasar murah. Jadi yang ingin mempercantik ruangan untuk menyambut tamu lebaran tinggal beli saja, tak perlu repot-repot merawat bertahun-tahun. Juga yang ingin membeli buku-buku Islam datang saja ke pasar murah dengan diskon 20%. Pasar murah ini diresmikan pembukaannya oleh Bupati Bojonegoro tanggal 23 September 2008 dan berakhir tanggal 25 September 2008.

GETARKAN JIWA

Untuk sepuluh hari terakhir Ramadhan 1429 H ini ayo kita getarkan hati, getarkan jiwa, teteskan air mata kita untuk mengingat kebesaran Allah SWT. Bila belum bisa latihan, paksakan, konsentrasikan, konsentrasi, konsentrasi, buat seluruh tubuh kita merinding (berdirikan bulu roma/kuduk) dan getarkan seluruh jiwa raga.

Yang akhirnya nanti saat mendengar takbir malam idul fitri, saat takbir di masjid / lapangan sebelum shalat id, saat takbir shalat id hati kita bisa bergetar, jiwa kita bisa bergetar. Bila keluar air mata jangan ditahan, lepaskan, biarkan menetes dipakaian dan sajadah serta nikmati dan hayati kebesaran Allah SWT.

KURANGI NONTON TELEVISI (2)

4. “Ceria tanpa layar kaca”
Rumah tersebut tak “memelihara” televisi.
Tak ada televisi di rumah ternyata begitu menyenangkan. Mau tahu buktinya ?
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Suara Hidayatullah Maret 2007

5. “Matikan TV, giatkan membaca”.
Dikutip dari Majalah LMI (OASE) Agustus 2008 / Sya’ban 1429 H

6. Hasil wawancara reporter Oase dan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MSc di Jakarta sebagai berikut :

Ustadz Didin, bulan Ramdhan tahun ini masih aktif ngisi pengajian di televisi ?

Ada beberapa tawaran, tapi saya sudah memutuskan untuk tidak lagi ngisi pengajian di televisi. Program-program ramadhan di televisi banyak yang bergeser dari substansinya. Jadi, saya dengan halus menolak. Kalau dulu programnya serius, saya bersedia.
Dikutip dari Majalah LMI (OASE) September 2008 / Ramadhan 1429 H

7. “Gadaikan televisi karena televisi adalah kebohongan”.
Penceramah Pengajian ahad pagi masyarakat madani Bojonegoro. 07/09/2008

Maka dengan sajian-sajian tv yang sudah tidak ada batas ini dan dihubungkan dengan kutipan-kutipan diatas kita bisa menarik kesimpulan yang bijaksana tentang tv. Kita ibaratkan stasiun tv sebagai penjual dan kita (penonton) sebagai pembeli. Kita bisa membeli (memilah) sendiri mana yang cocok dikonsumsi oleh keluarga kita.

Dan kami harapkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak segan-segan dan BERANI menegur stasiun tv yang sudah keluar dari norma-norma agama dan adat ketimuran.

Dan mulai 01 Ramadhan 1429 H / 01 September 2008 kami sudah mulai membatasi keluarga dalam menonton tv. Yang sebelumnya memang berat melaksanakan ini, karena sudah ketergantungan. Maka ketergantungan ini kita kurangi sedikit demi sedikit. Dan ke depan mungkin membuat judul “AYO BENCI TELEVISI “

Akhirnya kami membuat jadual nonton tv sebagai berikut :

TAHAP

JAM

KETERANGAN

I

23.00 S.D. 07.30

KHUSUS SABTU DAN AHAD LONGGAR

II

12.00 S.D. 13.30

III

17.00 S.D. 18.00

TERGANTUNG MASUKNYA SHALAT MAGRIB

Pertama kami terapkan jadual ini pada kikuk dan bingung mau mengerjakan apa waktu yang kosong ini, biasanya waktu kosong langsung nonton / menghadap tv. Tapi setelah terbiasa, waktu kosong digunakan anak-anak membaca buku atau menyelesaikan pelajaran sekolah di dalam kamar masing-masing. Dan ketergantungan pada tv mulai berkurang.

Dengan konsekuensi kita sebagai orang tua harus menambah bahan-bahan bacaan yang bermanfaat. Untuk kedepan kami arahkan belajar menulis dan dipublikasi pada blognya masing-masing.

Cerita masa kecil.

Dulu waktu kecil (1975) belum ada listrik dan satu desa yang punya tv hanya satu, paling nonton tv kalau ada tinju Muhammad Ali. Jadi setiap pulang sekolah langsung ambil sarung (masih pakai baju pramuka) terus pergi ke langgar (musholla, sekarang) belajar mengaji. Selesai mengaji terus main-main antara lain : ke sawah cari apa yang bisa dimakan, ke ndadah (pekarangan belakang rumah tetangga) mencari burung yang menetaskan anaknya, bluron (mandi di kali bercampur orang mandikan sapi). Pulang main, mandi terus kembali berangkat ke langgar untuk shalat magrib dan mengaji. Terus………….masih banyak cerita masa kecil yang asyik, Termasuk disuruh teman-teman yang lebih besar untuk cari puntung rokok. Maklum waktu itu rokok pabrik harganya belum terjangkau anak remaja.

Senin, 22 September 2008

CATATAN SEPULUH (10) HARI KEDUA BULAN RAMADHAN

Lemah, lemah, lemah dan malas untuk bangun makan sahur setelah melewati sepuluh hari kedua kita puasa dan sekarang melanjutkan perjalanan sepuluh (10) hari terakhir yaitu pembebasan dari siksa api neraka. Memang menurut para ustadz bila pahala yang diberikan oleh Allah SWT berlipat-lipat membuat kita merasa berat untuk melakukannya. Dan inilah tantangan yang harus kita lawan dan kita hadapi dengan penuh semangat perjuangan. Ayo kita bertekad melawan rasa lemah, rasa malas dengan penuh semangat untuk mendapatkan Lailatul Qodar dan tiket pembebasan dari siksa api neraka pada sepuluh (10) hari ketiga/terakhir.

Ayo kita koreksi apa yang telah kita lakukan dan dapatkan pada sepuluh (10) hari kedua ini. Peningkatan apa yang telah kita dapatkan. Kalau di kampung kadang koreksinya : aku poso wis oleh sepuluh dino timbangan kok ijek pancet ae, timbangane goser, timbangane rusak dll. (Maaf). Kalau penulis tidak berani menimbang badan karena takut kalau tujuan puasa melenceng dari tujuan kita puasa yaitu bertaqwa kepada Allah SWT.

Berikut ini rangkuman kultum sepuluh (10) hari kedua shalat tarawih di masjid Islamic Centre Bojonegoro.

Pada sepuluh (10) hari kedua bila kita masih aktif mengikuti sholat tarawih berarti termasuk orang-orang yang sudah terseleksi, berarti rohani kita sudah meningkat. Karena yang umum barisan jamaah di masjid-masjid sudah maju (istilah para ustadz).

Disini diterangkan dan diingatkan kembali tata cara mengerjakan shalat. Mengangkat tangan sunnah : pada saat pertama takbir, akan dan setelah ruku’, berdiri setelah tahiyat awal. Baca al fatihah diusahakan terdengar oleh telinga sendiri, ruku’ 180 derajat, ketika sujud ada tujuh anggota tubuh yang menyentuh alas/lantai (dua jempol kaki, dua lutut, dua telapak tangan, dan jidat). Ketika salam dada tidak boleh ikut bergerak mengikuti kepala. Setiap melakukan sesuatu awali dengan niat. Berangkat ke masjid dengan diawali niat, setiap langkah akan menghapus kesalahan kita.

Sambil menunggu imam atau ada waktu kosong dimasjid langsung niati dengan iktikaf. Niscaya akan ada nilai tambah yang kita dapatkan.

Dan kita harus percaya tidak ada kekuatan selain dari Allah SWT. Menghidupkan malam-malam ramadhan dan berlomba-lomba sedekah dijalan Allah. Shalat jamaah sangat disukai Allah SWT dan surga balasannya.

Demikian sedikit rangkuman kultum sepuluh (10) hari kedua, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat untuk penulis dan pengunjung semua.

Sabtu, 20 September 2008

KURANGI NONTON TELEVISI (1)

Memomentum Ramadhan 1429 H ini kesempatan kita untuk mengurangi nonton televisi (tv). Karena meskipun semua stasiun tv menggemakan ramadhan tapi sebenarnya acara-acara yang betul-betul mengenai ibadah ramadhan hanya 25% saja itupun belum dipotong penayangan iklan.

Banyak acara dikemas ramadhan tapi isinya hanya guyonan dan membuat penonton lalai/terlena apa yang seharusnya dikerjakan pada bulan ramadhan ini. Sinetron komidi (kemasan ramadhan) yang sudah tidak menghargai status kepala rumah tangga dan tidak menggambarkan orang yang puasa itu harus bagaimana.

Sinetron tentang Islam dengan iklan pelembut pakaian menampilkan kartun perempuan yang megal-megol (kira-kira 17/09/08). Dan masih banyak lagi iklan-iklan yang tidak pantas dilihat orang yang lagi berpuasa (disuguhi iklan perempuan buka baju, red).

Tayangan tentang sejarah Islam dengan iklan percintaan, “..................... pasanganmu” (20/09/08)

Juga menyuburkan praktek perbencongan yang sebenarnya tidak diperbolehkan ajaran agama Islam (laki-laki menyerupai perempuan)

Acara kuliner banyak ditayangkan pada siang hari bulan ramadhan yang mengekspose makanan-makanan lezat dan minuman yang menyegarkan. Sehingga menggoda yang sedang berpuasa. Termasuk juga menayangkan gambar bule perempuan yang sedang berjemur di pantai dalam acara wisata / jalan-jalan.

Extra film yang menayangkan beberapa adegan ciuman (meskipun belum menyentuh tapi sudah kelihatan kalau itu adegan ciuman) disela-sela acara yang bernuansa Islam 18/09/08 jam 17.45 yang sedang kami tonton sekeluarga.

Televisi menayangkan suatu peristiwa dengan vulgar. Salah satu contoh, penayangan luka korban yang tidak dikaburkan padahal itu menyalahi aturan. Seperti yang saya kutip dari hasil wawancara Suara Hidayatullah dengan Teguh Juwarno (mantan penyiar televisi).

(Menurut pria yang menyatakan “cerai” dengan televisi ini, sebelum era reformasi, tayangan televisi erat berpegang pada style book. Yakni buku panduan yang banyak dipakai oleh stasiun televisi dunia. Di buku itu antara lain disebutkan bahwa rekonstruksi kekerasan, adegan memukul, gambar mayat, luka yang menganga dan darah tidak perlu di-close up (ditayangkan secara detail). Namun kini semua tersaji tanpa ditutup-tutupi. “Teman-teman (pengelola televisi) beranggapan bahwa semakin menonjolkan kekerasan dan darah, semakin seru,”)
Dikutip dari Majalah Suara Hidayatullah Maret 2007.

Dan ini saya akan menampilkan cuplikan-cuplikan lain tentang manfaat dan mudharatnya tv :

1. Dr. Ir. Aton Apriantono, MSc
(Satu lagi, ia tak punya tv, tv tak terlalu banyak member manfaat. Terlalu banyak negatifnya ketimbang positifnya. Karena itulah ia membatasi keluarganya menonton tv, sekalipun di rumah dinasnya sekarang ada tersedia tv dalam ukuran besar).
Dikutip dari Profil Keluarga Majalah Suara Hidayatullah Juli 2006

2. (Setan itu kadang menggoda lewat bisikan hati, kadang melalui manusia, kadang melalui tv).
Dikutip dari Kolom parenting Majalah Suara Hidayatullah Juli 2006

3. “Hari tanpa tv, kenapa tidak “.
Setiap orang tua punya kewajiban menyelamatkan anak-anak.
Dikutip dari Figur Majalah Suara Hidayatullah September 2006

Bersambung................

Jumat, 19 September 2008

REKREASI TERUS MESKIPUN PUASA (2)

Ya untuk bulan puasa kita beralih ke rekreasi sosial. Apa itu ?

Disekitar kita khan banyak yayasan sosial yang menampung anak-anak diantaranya yayasan : yatim piatu, pendidikan, yayasan sosial lainnya. Maka untuk bulan ramadhan tetap rekreasi tapi sambil beribadah. Bagaimana caranya ?

Kita khan punya penghasilan, yang 2.5% (sering diingatkan oleh para ustadz pada saat pengajian atau pada suatu kesempatan) adalah titipan Allah SWT untuk disalurkan pada yang berhak. Ataupun dalam bentuk infag, sodaqoh dan macam-macam zakat lainnya dengan niat lillahi ta’la. Makanya kesempatan ini kita gunakan untuk menyalurkan pada kaum duafa / yang berhak sekaligus memberi contoh pada anak-anak kita untuk peka pada lingkungan dan kegiatan amal / sosial.

Kali ini rekreasi tidak ketempat rekreasi, tapi mengunjungi yayasan. Untuk perjalanan juga sangat menyenangkan dan menyegarkan (lihat foto diatas). Dengan mengunjungi yayasan kita ikut merasakan bagaimana anak yang sudah tidak punya ibu/bapak padahal sebenarnya masih menginginkan kasih sayang orang tua sendiri. Atau orang tuanya (maaf) tidak mampu membiayai hidup anaknya, sehingga dititipkan ke yayasan. Yang jelas akhirnya anak-anak tersebut tidak bisa bebas (dalam arti yang positif), manja seperti berkumpul dengan keluarganya sendiri. Mungkin harus mencuci sendiri, makan mempersiapkan sendiri, berangkat sekolah mempersiapkan sendiri dan masih banyak sendiri yang lain. Maka dengan mengunjungi mereka kita bisa berbagi kesenangan dan membesarkan hati mereka. Kata yang tren sekarang “Mari berbagi”, “Memberi manfaat untuk sesama”. Yuk latihan …………….

Dengan latihan disiplin menyisihkan 2,5% penghasilan (tentu pengahasilan sah) dan menyalurkan kepada yang berhak, lama-kelamaan membuat kepuasan bathin tersendiri bagi kita. Jadi meskipun puasa (bulan ramadhan) jangan berhenti rekreasi.

Setelah menulis ini penulis berkesimpulan bila rekreasi ada dua jenis, pertama : rekreasi alam, kedua : rekreasi sosial. Ada yang setuju ?

Cerita pengasuh yayasan :

Yang agak berat dan ekstra sabar adalah mengasuh anak yayasan yang laki-laki. Setiap awal ramadhan dibelikan gelas sebagai tambahan yang telah ada untuk tempat minum, tapi setelah beberapa hari jumlahnya kurang dari separo. Demikian juga untuk barang-barang peralatan memasak yang lain. Sehingga kalau mau minum atau makan kolak pada bingung, pokoknya alat-alat makan/dapur tidak kembali pada tempatnya (seperti sendok ada yang didalam bak mandi dsb). Tapi itulah cobaan dan seninya untuk melatih kesabaran yang tinggi dan harus sabar.

Anak-anak yang dititipkan orang tuanya ke yayasan kalau pulang ke rumah diolok-olok tetangganya karena sekolah tidak membayar, sehingga orang tua dan anaknya menangis. JZ13MGS